Selasa, 17 Oktober 2017

PERHITUNGAN BIAYA PROSES AKUNTANSI BIAYA

PERHITUNGAN BIAYA PROSES
(PROCESS COSTING)

Penentuan biaya proses adalah suatu metode dimana bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik dibebankan ke pusat biaya atau departemen.
Biaya yang dibebankan ke setiap unit produk yang dihasilkan ditentukan dengan membagi total biaya yang dibebankan ke pusat biaya tersebut dengan jumlah unit yang diproduksi pada pusat biaya yang bersangkutan.

Karakteristik penentuan biaya proses
1.       Aktivitas produksi bersifat terus-menerus
2.       Produksi bersifat masa, dengan tujuan untuk mengisi persediaan yang siap untuk dijual
3.       Produk yang dihasilkan dalam suatu departemen atau pusat biaya relatif homogen dan berdasarkan standar
4.       Biaya dibebankan kesetiap unit dengan membagi total biaya yang dibebankan ke pusat biaya dengan total unit yang diproduksi
5.       Pengumpulan biaya dilakukan berdasarkan periode waktu tertentu.

Ekuivalen unit dalam penentuan biaya proses
Unit ekuivalen produksi atau ekuivalen produksi adalah penyetaraan produk dalam proses tersebut menjadi produk jadi.
Terdapat dua metode aliran biaya untuk mengkalkulasi biaya produksi produk dalam proses, dengan perhitungan unit ekuivalen yaitu:
1.       Aliran biaya rata-rata tertimbang
Rumus: Produk selesai + (PDP Akhir x tingkat penyelesaian)
2.       Aliran biaya FIFO
Rumus: Produk selesai + (PDP Akhir x tingkat penyelesaian) – (PDP Awal x tingkat penyelesaian)

Contoh:
PT. BERDIKARI mempunyai data sebagai berikut:
Persediaan awal PDP                                                                     = 1.000 unit
(tingkat penyelesaian: 100% bahan baku, dan 80% biaya konversi)
Produk masuk proses                                                                     = 38.200 unit
Produk selesai di transfer                                                              = 38.000 unit
Persediaan akhir PDP                                                                    = 1.200 unit
(tingkat penyelesaian: 80% bahan baku, dan 75% biaya konversi)

Diminta: Hitung unit ekuivalen produksi menggunakan aliran biaya rata-rata tertimbang dan aliran biaya FIFO
Jawab:
Menggunakan aliran biaya rata-rata:
Rumus : Produk Selesai + (PDP Akhir x tingkat penyelesaian)

                                                                                Bahan baku                        Biaya konversi
                                                                                                                                (Tenaga kerja dan FOH)
                                                                                ------------------                  --------------------------------
Produk selesai                                                  38.000 unit                          38.000 unit
PDP Akhir:
1.200 x 80%                                                              960 unit
1.200 x 75%                                                                                                              900 unit
                                                                                ------------------                  --------------------------------
Unit ekuivalen produksi                                               38.960 unit                          38.900 unit

Atau:
Bahan baku        : 38.000 unit + (1.200 x 80%)        = 38.960 unit
Biaya konversi  : 38.000 unit + (1.200 x 75%)        = 38.900 unit

Menggunakan Aliran biaya FIFO
Rumus : Produk Selesai + (PDP Akhir x tingkat penyelesaian) – (PDP Awal x tingkat penyelesaian)

                                                                                Bahan baku                        Biaya konversi
                                                                                                                                (Tenaga kerja dan FOH)
                                                                                ------------------                  --------------------------------
Produk selesai                                                  38.000 unit                          38.000 unit
PDP Akhir:
1.200 x 80%                                                              960 unit
1.200 x 75%                                                                                                              900 unit
PDP Awal:
1.000 x 100%                                                      (1.000 unit)
1.000 x 80%                                                                                                             (800 unit)
                                                                                ------------------                  --------------------------------
Unit ekuivalen produksi                                               37.960 unit                          38.100 unit

Atau:
Bahan baku        : 38.000 unit + (1.200 x 80%) – (1.000 X 100%)       = 37.960 unit
Biaya konversi  : 38.000 unit + (1.200 x 75%) -  (1.000 X 80%)         = 38.100 unit

PERHITUNGAN BIAYA PER DEPARTEMEN:
Akuntansi, Biaya bahan:
Contoh:
PT. BOGOR adalah perusahaan mainan anak-anak dengan merk “BB”, perusahaan mempunyai dua departemen produksi yaitu departemen pemotongan dan departemen perakitan. Untuk kedua departemen tersebut perusahaan mempunyai dua akun produk dalam proses secara terpisah. Permintaan bahan baku yang digunakan departemen pemotongan sebesar Rp7.800.000, departemen perakitan sebesar Rp5.650.000
Buatlah jurnal permintaaan bahan baku tersebut:
Jurnal:
PDP-Departemen Pemotongan                 7.800.000
PDP-Departemen perakitan                       5.650.000
                Persediaan Bahan Baku                                                13.450.000

Akuntansi, Biaya Tenaga Kerja:
Contoh:
PT. CIANJUR adalah perusahaan perakitan  Radio dengan merk “GACA” Perusahaan mempunyai dua departemen produksi yaitu departemen perakitan dan departemen penyelesaian. Untuk kedua departemen tersebut perusahaan mempunyai akun produk dalam proses secara terpisah.
Selama bulan Agustus jam kerja langsung yang diserap departemen perakitan sebanyak 1.840 jam dengan tarif Rp2.000 per jam. Departemen penyelesaian 1.650 jam, dengan tarif Rp1.500 perjam
Buatlah jurnal penyerapan biaya tenaga kerja masing-masing departemen:
Jurnal
PDP-Departemen perakitan                                       3.680.000
PDP-Departemen penyelesaian                                               2.475.000
                Beban Gaji                                                                          6.155.000
Akuntansi, Biaya Overhead Pabrik:
Contoh:
PT. AGAM adalah perusahaan perakitan komputer dengan merk “LAPY”  perusahaan mempunyai dua departemen produksi yaitu departemen perakitan dan departemen penyelesaian.

Selama bulan Agustus telah dicatat dalam buku besar: Listrik, air dan telp.  Rp9.390.000, akumulasi penyusutan mesin Rp6.400.000, bahan tak langsung Rp4.260.000, dan tenaga kerja tak langsung Rp10.240.000
Diminta:
Buatlah jurnal penggunaan overhead pabrik tersebut:
Pengendali overhead pabrik                                      30.290.000
                Listrik, air dan telp                                                          9.390.000            
                Akumulasi penyusutan mesin                                         6.400.000
                Bahan tak langsung                                                         4.260.000
                Tenaga kerja tak langsung                                             10.240.000


Apabila sifat produksi berfluktuasi  dari bulan ke bulan maka digunakan pembebanan berdasarkan tarif yang ditetapkan sebelumnya atau ditetapkan dimuka untuk masing-masing departemen.
Contoh:
PT. ICO Com adalah perusahaan perakitan radio dengan merk”ICOM” perusahaan mempunyai dua departemen perakitan dan departemen penyelesaian. Untuk kedua departemen tersebut perusahaan mempunyai akun produk dalam proses yang terpisah.
Perusahaan membebankan biaya overhead pabrik berdasarkan jam mesin, dengan tarif ditentukan dimuka untuk departemen perakitan Rp3.500 per jam mesin dan departemen penyelesaian Rp3.900 per jam mesin.
Selama bulan September jam mesin yang digunakan  pada departemen perakitan 4.050 jam mesin, departemen penyelesaian  3.700 jam mesin, BOP aktual Rp30.290.000
Diminta:
Buatlah jurnal:
PDP- Departemen perakitan                                                      14.175.000
PDP-Depatemen penyelesaian                                                 14.430.000
                Biaya overhead pabrik dibebankan                                         28.605.000

Biaya overhead pabrik dibebankan:
4.050 x Rp3.500                 = Rp14.175.000
3.700 x Rp3.900                 = Rp14.430.000

BOP Aktual                         Rp30.290.000
BOP Dibebankan              Rp28.605.000
                                                -----------------
Under Applied                  Rp  1.685.000









LAPORAN BIAYA PRODUKSI

Dalam penentuan biaya proses, semua biaya yang dibebankan ke setiap departemen produksi dapat dikhtisarkan dalam laporan biaya produksi untuk masing-masing departemen.
Laporan biaya produksi memiliki format yang beragam, tetapi minimal memuat informasi sbb:
1.       Skedul kuantitas, memuat informasi produk dalam proses awal, produk masuk proses pada periode bersangkutan, produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya atau gudang, produk dalam proses akhir, produk hilang, produk cacat, dan produk rusak.
2.       Biaya dibebankan, memuat informasi biaya produk dalam proses awal, biaya yang dibebankan dari departemen sebelumnya, biaya dibebankan periode bersangkutan, unit equivalen dan biaya per unit masing-masing elemen biaya.
3.       Pertanggungjawaban biaya, memuat informasi biaya yang ditransfer ke departemen berikutnya atau gudang, biaya produk yang hilang akhir proses, biaya produk rusak, biaya produk cacat, biaya yang telah diserap produk dalam proses.

Contoh:
PT.  JACO adalah perusahaan pengolahan nanas yang dikemas dalam kaleng, pengolahan dilakukan melalui satu tahap pengolahan yaitu melalui departemen pengolahan.
Awal September perusahaan baru mulai beroperasi, dengan mengolah nanas sebanyak 8.000 kg, pada akhir September produk selesai yang ditransfer ke gudang sebanyak 7.600 kg, sedangkan yang 400 kg masih dalam proses dengan tingkat penyerapan biaya bahan baku 100%, biaya tenaga kerja 75%, dan biaya overhead pabrik 80%. Biaya yang dikeluarkan untuk mengolah nanas tersebut adalah:
Biaya bahan baku            Rp6.000.000
Biaya tenaga kerja           Rp4.740.000
Biaya FOH                           Rp3.168.000

Diminta:
Susunlah laporan biaya produksi PT. JACO untuk bulan September 2012




PT. JACO
Departemen Pengolahan
Laporan Biaya Produksi
Untuk Bulan September 2012
Skedul Kuantitas



Produk Masuk Proses
8.000 kg


Produk Selesai
7.600 kg


Produk dalam proses akhir
(100% bahan, 75% Tenaga kerja, 80% BOP)
400 kg



8.000 kg


Biaya dibebankan



Elemen Biaya
Total
Unit Ekuivalen
Biaya/kg

Bahan baku
6.000.000
8.000 kg
750

Tenaga kerja
4.740.000
7.900 kg
600

BOP
3.168.000
7.920 kg
400

Total
13.908.000

1.750

Unit Ekuivalen : Produk selesai + (PDP Akhir x tingkat penyelesaian)
Bahan baku
Tenaga Kerja
BOP
7.600 kg + (400 kg x 100%) = 8.000 kg
7.600 kg + (400 kg x 75%) = 7.900 kg
7.600 kg + (400 kg x 80%) = 7.920 kg
Pertanggungjawaban Biaya
Biaya produk selesai ditransfer
7.600 kg x Rp1.750

Rp13.300.000
Produk dalam proses akhir:



Bahan baku
400 kg (100% x Rp750
Rp300.000

Tenaga Kerja
400 kg (25% x Rp600
Rp180.000

BOP
400 kg (80% x Rp400
Rp128.000




Rp608.000
Total


Rp13.908.000

METODE HARGA POKOK PROSES

METODE HARGA POKOK PROSES

A.   PENGERIAN METODE HARGA POKOK PROSES
Metode harga pokok proses adalah metode pengumpulan biaya produksi melalui departemen produksi atau pusat pertanggungjawaban biaya, yang umumnya diterapkan pada perusahaan yang menghasilkan produk atau massa.

B.   KARAKTERISTIK METODE HARGA POKOK PROSES
Karakter produksinya sbb:
1.      Produk yg dihasilkan merupakan produk standar
2.      Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama
3.      Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu

C.   PERBEDAAN METODE HARGA POKOK PROSES DENGAN METODE HARGA POKOK PESANAN
1.      pengumpulan biaya produksi
Metode harga pokok pesanan mengumpulkan biaya produksi menurut pesanan, sedangkan metode harga pokok proses mengumpulka biaya produksi per departemen produksi per periode akuntansi
2.      perhitungan harga pokok produksi per satuan
metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan. Perhitungan ini dilakukan pada saat pesanan telah selesai diproduksi. Metode harga pokok proses menghitung harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan. Perhitungan ini dilakukan setiap akhir periode akuntansi ( biasanya akhir bulan)
3.      penggolongan biaya produksi
dalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi harus dipisahkan menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung. Biaya produksi langsung dibebankan kepada produk berdasar biaya sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya produksi tidak langsung dibebankan kepada produk berdasarkan tariff yang ditentukan dimuka. Didalam metode harga pokok proses, pembedaan biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung seringkali tidak diperlukan, terutama jika perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk ( seperti perusahaan semen, pupuk, bumbu masak). Karena harga pokok persatuan produk dihitung setiap akhir bulan, maka umumnya biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar biaya yang sesungguhnya terjadi.
4.      unsur biaya yang dikelompokkan dalam biaya overhead pabrik.
Dalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung. Dalam metode ini biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tariff yang ditentukan dimuka. Di dalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku dan bahan penolong dan biaya tenaga kerja ( baik yang langsung maupun yang tidak langsung). Dalam metode ini biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk sebesar biaya yang sesungguhnya terjadi selama periode akuntansi tertentu.



D.   MANFAAT INFORMASI HARGA POKOK PRODUKSI
  1. Menentukan harga jual produk
  2. Memantau realisasi biaya produksi
  3. Menghitung laba atau rugi periodic
  4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca

E.   METODE HARGA POKOK PROSES- TANPA MEMPERHITUNGKAN  PERSEDIAAN PRODUK DALAM PROSES AWAL
VARIASI CONTOH PENGGUNAAN METODE HARGA POKOK PROSES YANG DIURAIKAN DALAM BAB INI MENCAKUP:
1.      metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang produknya dioleh hanya melalui satu departemen produksi
2.      metode harga pokok proses yang diterapkan dalam perusahaan yang produknya diolah melalui lebih dari satu departemen produksi
3.      pengaruh terjadinya produk yang hilang dalam proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan, dengan anggapan:
·         produk hilang pada awal proses
·         proiduk hilang pada akhir proses

1.      METODE HARGA POKOK PROSES – PRODUK DIOLAH MELALUI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI
Contoh 1.
PT Risa Rimendi mengolah produknya secara massa melalui satu departemen produksi. Jumlah biaya yang dikeluarkan selama bulan Januari 19x1 disajikan dalam gambar 3.1
Biaya bahan baku
Biaya bahan penolong
Biaya tenaga kerja
Biaya overhead pabrik
Rp    5.000.000
Rp    7.500.000
Rp  11.250.000
Rp  16.125.000
Total biaya produksi
Rp  39.875.000
Jumlah produk yang dihasilkan selama bulan tersebut adalah :
Produk jadi
Produk dalam proses pada akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut: Biaya bahan baku : 100 %;biaya bahan penolong  100 %, biaya tenaga kerja 50 %; biaya overhead pabrik 30 %.

2.000 kg

500 kg

Data produksi PT Risa Rimendi Bulan Januari 19x1
Masuk ke dalam proses: 2.500 kg


Produk jadi : 2000 kg
Produk dalam proses akhir  500 kg






Perhitungan harga pokok produksi per satuan
Unsure biaya produksi
Total biaya
Unit ekuivalensi
Biaya produksi per satuan
(1)
(2)
(3)
(2);(3)
Bahan baku
Bahan penolong
Tenaga kerja
Overhead pabrik
Rp    5.000.000
Rp    7.500.000
Rp  11.250.000
Rp  16.125.000
39.875.000
2.500
2.500
2.250
2.150
Rp 2.000
3.000
5.000
7.500
17.500

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses

Harga pokok produk jadi : 2.000 x Rp 17.500
Rp 35.000.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses
Biaya bahan baku : 100 % x 500 x Rp 2.000 = Rp 1.000.000
Biaya bahan penolong 100 % x 500 x Rp 3.000= Rp 1.500.000
Biaya tenaga kerja 50 % x 500 x Rp 5.000= Rp 1.250.000
Biaya overhead pabrik 30 % x 500 x rp 7.500= Rp 1.125.000




Rp   4.875.000
Jumlah biaya produksi bulan januari 19x1
Rp 39.875.000

Jurnal pencatatan biaya produksi
jurnal untuk mencatat biaya bahan baku ;
Barang dalam proses- biaya bahan baku                           Rp 5.000.000
      Persediaan bahan baku                                                            Rp 5.000.000

Jurnal untuk mencatat biaya bahan penolong
Barang dalam proses- biaya bahan penolong                          Rp 7.500.000
            Persediaan bahan penolong                                                     Rp 7.500.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja
Barang  dalam proses- biaya tenaga kerja                               Rp 11.250.000
            Gaji dan upah                                                                          Rp 11.250.000

JurnaL untuk mencatat biaya overhead pabrik
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik                         Rp 16.125.000
            Berbagai rekening yang dikredit                                             Rp 16.125.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang
Persediaan produk jadi                                                           Rp 35.000.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku                                 Rp 4.000.000
            Barang dalam proses- biaya bahan penolong                          Rp 6.000.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja                                 Rp 10.000.000
            Barang dalam proses- biaya overhead pabrik                         Rp 15.000.000


Jurnal mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang belum selesai dioleh pada akhir bulan januari 19 x1

Persediaan produk dalam proses                                             Rp 4.875.000
            Barang dalam proses – biaya bahan baku                               Rp 1.000.000
            Barang dalam proses – biaya bahan penolong                        Rp 1.500.000
            Barang dalam proses- Biaya tenaga kerja                               Rp 1.250.000
            Barang dalam proses – biaya overhead pabrik                        Rp 1.125.000 

2.      METODE HARGA POKOK PROSES –PRODUK DIOLAH MELALUI LEBIH DARI SATU DEPARTEMEN PRODUKSI
Perhitungan biaya produksi per satuan produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama adalah merupakan perhitungan yang bersifat kumulatif. Karena produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama telah merupakan produk jadi dari departemen sebelumnya, yang membawa biaya produksi dari departemen produksi sebelumnyua tersebut, maka harga pokok produk yang dihasilkan oleh departemen setelah departemen pertama terdiri dari:
a.       biaya produksi yang dibawa dari departemen sebelumnya
b.      biaya produksi yang ditambahkan dalam departemen setelah departemen pertama

Contoh2:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1

Departemen A
Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses
35.000 kg

Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B
30.000 kg

Produk selesai yang ditransfer ke gudang

24.000 kg
Produk dalam proses akhir bulan
5.000 kg
6.000 kg
Biaya yang dikeluarkan bulan Januari 19x1
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja
Biaya overhead pabrik

Rp 70.000
Rp 155.000
Rp 248.000

Rp 0
Rp 270.000
Rp 405.000
Tingkat penyelesaian produk dalam produk proses akhir
Biaya bahan baku
Biaya konversi

100%
20%


50%
Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen A
Unsur biaya produksi
Total biaya
Unit ekuivalensi
Biaya produksi per kg




Bahan baku
Tenaga kerja
Overbead pabrik
Rp 70.000
155.000
248.000
35.000
31.000
31.000
Rp 2
5
8
Total
Rp 173.000

Rp 15

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep A

Harga pokok produk jadi : 30.000 x Rp 15
Rp 450.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses
Biaya bahan baku : 100 % x 5.000 x Rp 2 = Rp 10.000
Biaya tenaga kerja 20 % x 5.000 x Rp 5 = Rp5.000
Biaya overhead pabrik 20 % x 5.000 x Rp 8= Rp 8.000




Rp   23.000
Jumlah biaya produksi Departemen A bulan januari 19x1
Rp 473.000

Jurnal pencatatan biaya produksi departemen A
Jurnal untuk mencatat biaya bahan baku :
Barang dalam proses-biaya bahan baku departemen A                      Rp 70.000
            Persediaan bahan baku                                                                        Rp 70.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja :
Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen A                    Rp 155.000
            Gaji dan upah                                                                                      Rp 155.000

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen A            
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen A              Rp 248.000
            Berbagai rekening yang di kredit                                                        Rp 248.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen A ke departemen B:
Barang dalam proses – biaya bahan baku departemen B                    Rp 450.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A                     Rp 60.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A                     Rp 150.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A               Rp 240.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang  belum selesai diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1

Persediaan produk dalam proses-departemen A                                 Rp 23.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A                     Rp 10.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A                     Rp   5.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A               Rp   8.000
Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen B
Unsur biaya produksi
Total biaya
Unit ekuivalensi
Biaya produksi per kg




Tenaga kerja
Overbead pabrik
270.000
405.000
27.000
27.000
10
15
Total
Rp 675.000

Rp 25

Perhitungan harga pokok produk jadi dan persediaan produk dalam proses dep B

Harga pokok produk selesai yang di transfer departemen B ke gudang
Harga pokok dari departemen A : 24.000 x Rp 15
Biaya yang ditambahkan oleh departemen B : 24.000x Rp 25


Rp 360.000
600.000

Total harga pokok produk jadi yang ditransfer ke gudang
24.000 x Rp 40
960.000
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir
Harga pokok dari departemen A : 6.000 x Rp 15
Biaya yang ditambahkan oleh departemen B:
Biaya tenaga kerja 50 % x 6.000 x Rp 10 = Rp30.000
Biaya overhead pabrik 50 % x 6.000 x Rp 15= Rp 45.000

90.000


Rp   75.000
Total harga pokok persediaan produk dalam proses departemen B
165.000
Jumlah biaya produksi kumulatif Departemen B bulan januari 19x1
Rp 1.125.000




jurnal pencatatan biaya produksi departemen B

Jurnal untuk mencatat penerimaan produk dari departemen A: :
Barang dalam proses – biaya bahan baku departemen B                    Rp 450.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen A                     Rp 60.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen A                     Rp 150.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen A               Rp 240.000

Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja :
Barang dalam proses- biaya tenaga kerja departemen B                    Rp 270.000
            Gaji dan upah                                                                                      Rp 270.000

Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik departemen B            
Barang dalam proses- biaya overhead pabrik departemen B              Rp 405.000
            Berbagai rekening yang di kredit                                                        Rp 405.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok produk jadi yang ditransfer oleh departemen B ke gudang
Persediaan produk jadi                                                                       Rp 960.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B                     Rp 360.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B                     Rp 240.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B               Rp 360.000

Jurnal untuk mencatat harga pokok persediaan produk dalam proses yang  belum selesai diolah dalam department A pada akhir bulan januari 19x1

Persediaan produk dalam proses-departemen B                                 Rp 165.000
            Barang dalam proses- biaya bahan baku departemen B                     Rp 90.000
            Barang dalam proses-biaya tenaga kerja departemen B                     Rp 30.000
            Barang dalam proses-biaya overhead pabrik departemen B               Rp 45.000


3.      PENGARUH TERJADINYA PRODUK YANG HILANG DALAM PROSES TERHADAP PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUK PER SATUAN

Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada awal proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan

Contoh3:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1

Departemen A
Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses
1.000 kg

Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B
700 kg

Produk selesai yang ditransfer ke gudang

400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut :
Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya konversi 40 %
Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 %


200 kg



100 kg
Produk yang hilang pada awal proses
100 kg
200 kg

Biaya produksi Bulan Januari 19 x1


Departemen A
Departemen B
Biaya bahan baku
Rp 22.500
Rp          -
Biaya bahan penolong
26.100
16.100
Biaya tenaga kerja
35.100
22.500
Biaya overhead pabrik
45.800
24.750

Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1
Jenis biaya
Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemn A ( unit ekuivalensi)
Biaya produksi Departemen A
Biaya per kg produk yang dihasilkan oleh departemen A
Biaya bahan baku
700 kg + 100 % x 200 kg = 900 kg
Rp 22.500
Rp 25
Biaya bahan penolong
700 kg + 100 % x 200 kg = 900 kg
26.100
29
Biaya tenaga kerja
700 + 40%x200kg=780kg
35.100
45
Biaya overhead pabrik
700 + 40%x200kg=780kg
46.800
60


Rp 130.500
Rp 159

Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 159
Rp 111.300
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg)
Biaya bahan baku         200 kg x 100 % x Rp 25 = 5.000
Biaya bahan penolong  200 kg x 100 % x Rp 29 = 5.800
Biaya tenaga kerja       200 kg x 40 %x Rp 45= 3.600
Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 60= 4.800




Rp 19.200
Jumlah biaya produksi Departemen A
Rp 130.500


Produk yang hilang pada awal proses di Departemen setelah departemen pertama

Perhitungan penyesuaian harga pokok per unit dari departemen A

Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen A
Rp 111.300 : 700
Rp 159,00
Harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari departemen A setelah adanya produk yang hilang dalam proses di Departemen B sebanyak 200 kg adalah Rp 111.300 : ( 700 kg-200 kg)
Rp 222.60
Penyesuaian harga pokok produksi per satuan produk yang berasal dari Departemen A
Rp  63.60


Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1

Jenis biaya
Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen B ( unit ekuivalensi)
Jumlah biaya produksi yang ditambahkan di departemen B
Biaya per kg yang ditambahkan Departemen B
Biaya bahan penolong
400 kg + 60 % x 100 kg = 460 kg
Rp 16.100
Rp 35
Biaya tenaga kerja
400 kg + 50 %x 100 kg = 450 kg
Rp 22.500
Rp 50
Biaya overhead pabrik
400 kg + 50 %x 100 kg = 450 kg
Rp 24.750
Rp 55


Rp 63.350
Rp 140

Perhitungan biaya produksi departemen B bulan Januari 19x1
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke gudang 400 kg @ Rp 362.60
Rp 145.040
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 kg):
Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 222.6= Rp 22.260
Biaya bahan penolong : 100 kg x 60 % x Rp 35 = 2.100
Biaya tenaga kerja  : 100 kg x 50 % x Rp 50 = 2.500
Biaya overhead pabrik : 100 kg x 50 %x Rp 55 =2.750




Rp 29.610
Jumlah kumulatif dalam departemen B
Rp 174.650

Pengaruh terjadinya produk yang hilang pada akhir proses terhadap perhitungan harga pokok produksi per satuan

Contoh:
PT eliona sari memiliki 2 departemen produksi untk menghasilkna produknya : Departemen A dan Departemen B. Data produksi dan biaya produksi ke dua departemen tersebut untuk bulan Januari 19 x1 disajikan dalam gambar  berikut :

Data produksi Bulan Januari 19x1

Departemen A
Departemen B
Produk yang dimasukkan dalam proses
1.000 kg

Produk selesai yang ditransfer ke Departemen B
700 kg

Produk selesai yang ditransfer ke gudang

400 kg
Produk dalam proses akhir bulan, dengan tingkat penyelesaian sebagai berikut :
Biaya bahan baku & penolong 100 % biaya konversi 40 %
Biaya bahan penolong 60 %, biaya konversi 50 %


200 kg



100 kg
Produk yang hilang pada akhir proses
100 kg
200 kg



Biaya produksi Bulan Januari 19 x1

Departemen A
Departemen B
Biaya bahan baku
Rp 22.500
Rp          -
Biaya bahan penolong
26.100
16.100
Biaya tenaga kerja
35.100
22.500
Biaya overhead pabrik
45.800
24.750


Perhitungan biaya produksi per unit departemen A bulan januari 19 x1

Jenis biaya
Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemn A ( unit ekuivalensi)
Biaya produksi Departemen A
Biaya per kg produk yang dihasilkan oleh departemen A
Biaya bahan baku
700 kg + 100 % x 200 kg + 100 kg= 1000 kg
Rp 22.500
Rp 22.5
Biaya bahan penolong
700 kg + 100 % x 200 kg+ 100 kg = 1000 kg
26.100
26.10
Biaya tenaga kerja
700 + 40%x200kg + 100 kg = 880kg
35.100
39.89
Biaya overhead pabrik
700 + 40%x200kg+ 100 kg = 880kg
46.800
53.18


Rp 130.500
Rp141.67

Perhitungan biaya produksi Departemen A bulan Januari 19x1

Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 700 x Rp 141.67
Rp 99.169
Penyesuaian harga pokok produk selesai karena adanya produk yang hilang pada akhir proses 100 xRp 141,67
14.167,00
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah disesuaikan : 700 x Rp 161,91
113.334,40
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 200 Kg)
Biaya bahan baku         200 kg x 100 % x Rp 22.5 = 4.500
Biaya bahan penolong  200 kg x 100 % x Rp 26.1 = 5.220
Biaya tenaga kerja       200 kg x 40 %x Rp 39.89= 3.191,2
Biaya overhead pabrik 200 kg x 40 %x Rp 53.18= 4.254,4




Rp 17.165.60
Jumlah biaya produksi Departemen A
Rp 130.500,00



Produk yang hilang pada akhir proses di departemen produksi setelah departemen produksi pertama

Perhitungan biaya produksi per unit Departemen B bulan januari 19 x1

Jenis biaya
Jumlah produk yang dihasilkan oleh departemen B ( unit ekuivalensi)
Jumlah biaya produksi yang ditambahkan di departemen B
Biaya per kg yang ditambahkan di Departemen B
Biaya bahan penolong
400 kg + 60 % x 100 kg + 200 kg = 660 kg
Rp 16.100
Rp 24.39
Biaya tenaga kerja
400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = 650 kg
Rp 22.500
Rp 34.62
Biaya overhead pabrik
400 kg + 50 % x 100 kg + 200 kg = 650 kg
Rp 24.750
Rp 38.08


Rp 63.350
Rp 97.09

Perhitungan biaya produksi Departemen B bulan Januari 19x1


Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke Departemen B : 400 x Rp 161.91
Rp 64.764,00
Biaya yang ditambahkan departemen B 400 x Rp 97.09
     38.836,00
Harga pokok produk yang hilang pada akhir proses : 200 kg ( Rp 161.91+Rp 97.09
51.800,00
Harga pokok produk selesai yang ditransfer ke departemen B setelah disesuaikan : 400 x Rp 388.5
155.400,00
Harga pokok persediaan produk dalam proses akhir bulan ( 100 Kg)
Harga pokok dari departemen A : 100 kg x Rp 161.91 = Rp 16.191,00
Biaya bahan penolong  100 kg x 60 % x Rp 24.39 = 1.463.3
Biaya tenaga kerja       100 kg x 50 %x Rp 34.62= 1.731
Biaya overhead pabrik 100 kg x 50 %x Rp 38.08= 1.904




Rp 21.289.40
Jumlah biaya produksi Departemen B
Rp 176.689.40